Jumat, 26 September 2014

Masalah angkatan kerja di indonesia tahun 2010
Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dalam pembangunan ekonomi di negara ini pengangguran merupakan masalah yang rumit dan lebih serius daripada masalah perubahan dalam disribusi pendapatan yang kurang menguntungkan penduduk yang berpendapatan rendah. Keadaan di negara-negara berkembang dalam beberapa dasawarsa ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang telah tercipta tidak sanggup menyediakan kesempatan kerja yang lebih cepat daripada pertambahan penduduk. Oleh karenanya masalah pengangguran yang mereka hadapi dari tahun ke tahun semakin serius.
Masalah pengangguran akan menimbulkan dampak yang negatif bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Dampak negatif dari pengangguran adalah kian beragamnya tindakan kriminal, makin banyaknya jumlah anak jalanan, pengemis, pengamen perdagangan anak dan sebagainya sudah menjadi patologi sosial atau kuman penyakit sosial yang menyebar bagaikan virus yang sulit di berantas. Penyakit sosial ini sangat berbahaya dan menghasilkan korban-korban sosial yang tidak bernilai. Menurunnya kualitas sumber daya manusia, tidak di hargainya martabat dan harga diri manusia yang merupakan korban sosial dari penyakit sosial. Oleh karena itu, persoalan pengangguran ini harus secepatnya di pecahkan dan dicari jalan keluarnya.
Namun demikian, perlu disyukuri karena kondisi ketenagakerjaan di Indonesia dalam satu tahun terakhir atau hingga kuartal pertama tahun 2010 menunjukkan adanya sedikit perbaikan. Hal ini digambarkan dengan adanya peningkatan kelompok penduduk yang bekerja serta menurunnya angka pengangguran.
1. Perkembangan Angkatan Kerja
Secara struktural angkatan kerja merupakan bagian dari penduduk usia kerja, sehingga jumlah angkatan kerja sangat tergantung pada jumlah penduduk usia kerja yang masuk ke dalam angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja setiap tahunnya terus mengalami peningkatan sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk usia kerja. Pada tahun 2008 jumlah angkatan kerja sebanyak 113,74 juta meningkat menjadi 116,00 juta pada tahun 2009 dan menjadi 119,40 juta pada tahun 2010.
a.      Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan.
Secara umum komposisi angkatan kerja menurut tingkat pendidikan selama tahun 2008-2010 masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan SD meskipun menunjukkan tren yang terus menurun, yakni sebesar 52,35 persen pada tahun 2008, 51,04 persen pada tahun 2009, dan 49,52 persen pada tahun 2010. Sejalan dengan tren tingkat pendidikan SD, tren penurunan juga terjadi
pada tingkat pendidikan SMTP. Pada tahun 2008 angkatan kerja dengan tingkat pendidikan ini sebesar 19,34 persen. Persentase ini terus menurun pada tahun 2009 dan 2010 yang masing-masing mencapai 19,25 persen dan 18,93 persen. Komposisi angkatan kerja terkecil berada pada tingkat pendidikan diploma meskipun menunjukkan tren yang fluktuatif. Pada tahun 2008, angkatan kerja berpendidikan diploma sebesar 2,85 persen. Angka ini menurun pada tahun 2009 menjadi 2,78 persen, namun meningkat pada tahun 2010 menjadi 2,95 persen. Sebaliknya, angkatan kerja yang memiliki tingkat pendidikan SMTA Umum dan Kejuruan serta Universitas memperlihatkan tren yang terus meningkat. Pada tahun 2008 angkatan kerja berpendidikan SMTA Umum sebesar 14,45 persen dan terus meningkat di tahun 2009 dan 2010 menjadi 15,18 persen dan 15,29 persen. Begitu pula halnya dengan SMTA Kejuruan. Pada tahun 2008 sebesar 7,06 persen, tahun 2009 sebesar 7,50 persen, dan tahun 2010 sebesar 8,35 persen. Selain itu, angkatan kerja berpendidikan Universitas juga meningkat. Dari sekitar 3,94 persen pada tahun
2008, menjadi 4,26 persen dan 4,96 persen pada tahun 2009 dan 2010. Sejalan dengan diterapkan sistem pendidikan melalui program pendidikan dasar 9 (sembilan) tahun serta semakin mudahnya akses pendidikan, maka jumlah angkatan kerja berpendidikan SD dan SMTP dari tahun ke tahun diprediksikan akan terus menurun. Sebaliknya angkatan kerja berpendidikan SMTA ke atas diharapkan akan terus mengalami peningkatan, sehingga struktur angkatan kerja beberapa tahun ke depan diperkirakan akan mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.



b.      Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur.
Komposisi angkatan kerja menurut golongan umur selama tahun 2008-2010 secara umum didominasi oleh golongan umur 20-49 tahun yang masing-masing jumlahnya berada di atas angka 10 juta orang. Secara spesifik hingga tahun 2010, jumlah mayoritas berada pada golongan umur 25-29 dan 30-34 yang mencapai angka 15,62 juta orang. Sedangkan untuk golongan umur 15-19, 50-54, 55-59 dan 60+, masing-masing masih berada di bawah angka 10 juta orang. Rendahnya angkatan kerja golongan umur 15-19 ini disebabkan adanya penundaan penduduk usia kerja untuk memasuki lapangan pekerjaan karena masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan semakin meningkatnya angkatan kerja berpendidikan tinggi sebagaimana seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.

c.       Penduduk Yang Bekerja Menurut Provinsi.
Perkembangan suatu daerah sangat bergantung pada keberhasilan daerah tersebut dalam mengelola potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang tersedia. Salah satu indikator untuk menilai berkembang atau tidaknya suatu daerah adalah peningkatan kegiatan kegiatan produksi yang memiliki nilai ekonomi serta kemampuan daerah tersebut dalam menciptakan kesempatan kerja. Berdasarkan hal tersebut dan melihat angka penduduk yang bekerja menurut provinsi, dapat diketahui bahwa beberapa daerah seperti; Provinsi Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan provinsi yang menyerap tenaga kerja untuk bekerja dan mengalami perkembangan yang cukup berarti. Pada tahun 2008-2010 perkembangan tersebut terlihat dari besarnya jumlah penduduk yang bekerja di daerahdaerah tersebut jika dibandingkan dengan daerah-daerah yang lain. Salah satu contohnya seperti di Provinsi Jawa Timur yang jumlah penduduk bekerjanya meningkat dari 18,86 juta orang pada tahun 2008 menjadi 19,12 juta orang pada tahun 2009 dan 19,61 juta orang pada tahun 2010. Peningkatan juga terjadi di Provinsi Jawa Barat dari 16,16 juta orang pada tahun 2008, menjadi 16,79 juta orang pada tahun 2009 dan 17,18 juta orang pada tahun 2010. Di sisi lain, provinsi dengan jumlah penduduk yang bekerja paling kecil dalam periode yang sama adalah provinsi Papua Barat dan Maluku Utara.

d.      Perkembangan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja.
Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Indonesia pada tahun 2008, 2009 dan 2010 secara umum cenderung meningkat. Pada tahun 2008 tingkat partisipasi angkatan kerja sebesar 67,33 persen dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 67,60 persen. Tren peningkatan ini terus berlanjut pada tahun 2010 yang mencapai 67,63 persen.


e.       Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin.
Sesuai data Sakernas, jumlah penduduk yang bekerja selama tiga tahun (2008-2010) cenderung terus meningkat yakni dari 102,01 juta orang pada tahun 2008 menjadi 104,49 juta orang pada tahun 2009 dan 107,41 juta orang pada tahun 2010. Jika dilihat menurut jenis kelamin dalam kurun waktu yang sama, komposisi penduduk
yang bekerja dengan jenis kelamin laki-laki lebih besar daripada perempuan, yang masing-masing pada tahun 2008 sebesar 62,1 % dan 37,9 %, pada tahun 2009 sebesar 61,77 % dan 38,23 %, dan pada tahun 2010 sebesar 61,42 % dan 38,58 %.
Namun demikian, dari data tersebut juga dapat terlihat bahwa persentase perempuan yang bekerja terus meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa kesempatan bekerja untuk perempuan terus meningkat, sehingga laki-laki dan perempuan semakin
memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pekerjaan. Selain itu, semakin banyak pula perempuan yang bukan angkatan kerja (sekolah dan rumah tangga) masuk ke dalam kelompok angkatan kerja untuk bekerja. Melihat kecenderungan yang seperti ini, diprediksikan jumlah persentase perempuan yang bekerja akan mengalami peningkatan pada masa-masa mendatang.
f.     Angkatan Kerja Menurut Desa-Kota
Berdasarkan grafik di atas dapat dikatakan bahwa sejak tahun 2008 hingga 2010 jumlah angkatan kerja secara mayoritas masih berada di perdesaan dan memiliki tren peningkatan. Pada tahun 2008 jumlah angkatan kerja di desa sekitar 64,5 juta orang, meningkat pada tahun 2009 dan 2010 mencapai 65,5 juta dan 66,8 juta orang. Di sisi lain, walaupun tidak sebesar perdesaan, namun jumlah angkatan kerja yang berada di perkotaan juga memiliki tren yang meningkat. Pada tahun 2008 jumlah angkatan kerja di perkotaan sekitar 47,4 juta orang, meningkat menjadi 48,4 juta orang pada 2009 dan 49,7 juta orang pada 2010.

Oleh karena itu, guna menanggulangi lonjakan angkatan kerja baru serta mengurangi angka pengangguran perlu dilakukan sebuah langkah/cara yang kongkrit. Salah satu cara yang realistis dalam jangka pendek yakni dengan memberdayakan sektor informal, padat karya dan menciptakan jiwa kewirausahaan bagi kaum muda sehingga akan bisa menciptakan pengusaha baru, di samping strategi jangka panjang seperti pemerataan pertumbuhan ekonomi di wilayah melalui kebijakan desentralisasi. Sektor informal dinilai sangat membantu menyerap orang-orang yang menganggur tetapi kreatif dan menjadi pereda di tengah pasar global. Namun bukan berarti sektor formal di abaikan. Jika ternyata sektor informal ternyata dapat menjawab sebagian dari masalah pengangguran yang di hadapi bangsa ini, maka sudah waktunya sektor informal didukung oleh pemerintah dengan menyiapkan anggaran. Anggaran ini bisa digunakan untuk dijadikan modal pengembangan usaha ekonomis produktif bagi pekerja-pekerja informal serta bisa dijadikan modal untuk merintis usaha baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar