Masalah angkatan kerja di indonesia tahun 2010
Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dalam pembangunan
ekonomi di negara ini pengangguran merupakan masalah yang rumit dan lebih
serius daripada masalah perubahan dalam disribusi pendapatan yang kurang
menguntungkan penduduk yang berpendapatan rendah. Keadaan di negara-negara
berkembang dalam beberapa dasawarsa ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi
yang telah tercipta tidak sanggup menyediakan kesempatan kerja yang lebih cepat
daripada pertambahan penduduk. Oleh karenanya masalah pengangguran yang mereka
hadapi dari tahun ke tahun semakin serius.
Masalah pengangguran akan menimbulkan dampak yang negatif bagi
kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Dampak negatif dari pengangguran
adalah kian beragamnya tindakan kriminal, makin banyaknya jumlah anak jalanan,
pengemis, pengamen perdagangan anak dan sebagainya sudah menjadi patologi
sosial atau kuman penyakit sosial yang menyebar bagaikan virus yang sulit di
berantas. Penyakit sosial ini sangat berbahaya dan menghasilkan korban-korban
sosial yang tidak bernilai. Menurunnya kualitas sumber daya manusia, tidak di
hargainya martabat dan harga diri manusia yang merupakan korban sosial dari
penyakit sosial. Oleh karena itu, persoalan pengangguran ini harus secepatnya
di pecahkan dan dicari jalan keluarnya.
Namun demikian, perlu disyukuri karena kondisi ketenagakerjaan di Indonesia dalam satu tahun terakhir atau hingga kuartal pertama tahun 2010 menunjukkan adanya sedikit perbaikan. Hal ini digambarkan dengan adanya peningkatan kelompok penduduk yang bekerja serta menurunnya angka pengangguran.
Namun demikian, perlu disyukuri karena kondisi ketenagakerjaan di Indonesia dalam satu tahun terakhir atau hingga kuartal pertama tahun 2010 menunjukkan adanya sedikit perbaikan. Hal ini digambarkan dengan adanya peningkatan kelompok penduduk yang bekerja serta menurunnya angka pengangguran.
1. Perkembangan Angkatan Kerja
Secara struktural angkatan kerja merupakan bagian dari penduduk
usia kerja, sehingga jumlah angkatan kerja sangat tergantung pada jumlah
penduduk usia kerja yang masuk ke dalam angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja
setiap tahunnya terus mengalami peningkatan sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk
usia kerja. Pada tahun 2008 jumlah angkatan kerja sebanyak 113,74 juta
meningkat menjadi 116,00 juta pada tahun 2009 dan menjadi 119,40 juta pada
tahun 2010.
a.
Angkatan
Kerja Menurut Tingkat Pendidikan.
Secara umum komposisi angkatan kerja menurut tingkat pendidikan
selama tahun 2008-2010 masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan SD meskipun
menunjukkan tren yang terus menurun, yakni sebesar 52,35 persen pada tahun
2008, 51,04 persen pada tahun 2009, dan 49,52 persen pada tahun 2010. Sejalan dengan
tren tingkat pendidikan SD, tren penurunan juga terjadi
pada tingkat pendidikan SMTP. Pada tahun 2008 angkatan kerja dengan
tingkat pendidikan ini sebesar 19,34 persen. Persentase ini terus menurun pada
tahun 2009 dan 2010 yang masing-masing mencapai 19,25 persen dan 18,93 persen.
Komposisi angkatan kerja terkecil berada pada tingkat pendidikan diploma
meskipun menunjukkan tren yang fluktuatif. Pada tahun 2008, angkatan kerja berpendidikan
diploma sebesar 2,85 persen. Angka ini menurun pada tahun 2009 menjadi 2,78
persen, namun meningkat pada tahun 2010 menjadi 2,95 persen. Sebaliknya, angkatan
kerja yang memiliki tingkat pendidikan SMTA Umum dan Kejuruan serta Universitas
memperlihatkan tren yang terus meningkat. Pada tahun 2008 angkatan kerja
berpendidikan SMTA Umum sebesar 14,45 persen dan terus meningkat di tahun 2009
dan 2010 menjadi 15,18 persen dan 15,29 persen. Begitu pula halnya dengan SMTA
Kejuruan. Pada tahun 2008 sebesar 7,06 persen, tahun 2009 sebesar 7,50 persen,
dan tahun 2010 sebesar 8,35 persen. Selain itu, angkatan kerja berpendidikan Universitas
juga meningkat. Dari sekitar 3,94 persen pada tahun
2008, menjadi 4,26 persen dan 4,96 persen pada tahun 2009 dan 2010.
Sejalan dengan diterapkan sistem pendidikan melalui program pendidikan dasar 9
(sembilan) tahun serta semakin mudahnya akses pendidikan, maka jumlah angkatan
kerja berpendidikan SD dan SMTP dari tahun ke tahun diprediksikan akan terus
menurun. Sebaliknya angkatan kerja berpendidikan SMTA ke atas diharapkan akan
terus mengalami peningkatan, sehingga struktur angkatan kerja beberapa tahun ke
depan diperkirakan akan mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun-tahun
sebelumnya.

b.
Angkatan Kerja
Menurut Golongan Umur.
Komposisi angkatan kerja menurut golongan umur selama tahun
2008-2010 secara umum didominasi oleh golongan umur 20-49 tahun yang
masing-masing jumlahnya berada di atas angka 10 juta orang. Secara spesifik
hingga tahun 2010, jumlah mayoritas berada pada golongan umur 25-29 dan 30-34
yang mencapai angka 15,62 juta orang. Sedangkan untuk golongan umur 15-19, 50-54,
55-59 dan 60+, masing-masing masih berada di bawah angka 10 juta orang. Rendahnya
angkatan kerja golongan umur 15-19 ini disebabkan adanya penundaan penduduk
usia kerja untuk memasuki lapangan pekerjaan karena masuk ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan semakin meningkatnya angkatan kerja
berpendidikan tinggi sebagaimana seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.

c.
Penduduk Yang
Bekerja Menurut Provinsi.
Perkembangan suatu daerah sangat bergantung pada keberhasilan
daerah tersebut dalam mengelola potensi sumber daya alam dan sumber daya
manusia yang tersedia. Salah satu indikator untuk menilai berkembang atau
tidaknya suatu daerah adalah peningkatan kegiatan kegiatan produksi yang
memiliki nilai ekonomi serta kemampuan daerah tersebut dalam menciptakan kesempatan
kerja. Berdasarkan hal tersebut dan melihat angka penduduk yang bekerja menurut
provinsi, dapat diketahui bahwa beberapa daerah seperti; Provinsi Sumatera
Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan provinsi
yang menyerap tenaga kerja untuk bekerja dan mengalami perkembangan yang cukup
berarti. Pada tahun 2008-2010 perkembangan tersebut terlihat dari besarnya
jumlah penduduk yang bekerja di daerahdaerah tersebut jika dibandingkan dengan
daerah-daerah yang lain. Salah satu contohnya seperti di Provinsi Jawa Timur
yang jumlah penduduk bekerjanya meningkat dari 18,86 juta orang pada tahun 2008
menjadi 19,12 juta orang pada tahun 2009 dan 19,61 juta orang pada tahun 2010.
Peningkatan juga terjadi di Provinsi Jawa Barat dari 16,16 juta orang pada
tahun 2008, menjadi 16,79 juta orang pada tahun 2009 dan 17,18 juta orang pada
tahun 2010. Di sisi lain, provinsi dengan jumlah penduduk yang bekerja paling
kecil dalam periode yang sama adalah provinsi Papua Barat dan Maluku Utara.

d.
Perkembangan
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja.
Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Indonesia
pada tahun 2008, 2009 dan 2010 secara umum cenderung meningkat. Pada tahun 2008
tingkat partisipasi angkatan kerja sebesar 67,33 persen dan pada tahun 2009
meningkat menjadi 67,60 persen. Tren peningkatan ini terus berlanjut pada tahun
2010 yang mencapai 67,63 persen.

e.
Penduduk Yang
Bekerja Menurut Jenis Kelamin.
Sesuai data Sakernas, jumlah penduduk yang bekerja selama tiga
tahun (2008-2010) cenderung terus meningkat yakni dari 102,01 juta orang pada
tahun 2008 menjadi 104,49 juta orang pada tahun 2009 dan 107,41 juta orang pada
tahun 2010. Jika dilihat menurut jenis kelamin dalam kurun waktu yang sama,
komposisi penduduk
yang
bekerja dengan jenis kelamin laki-laki lebih besar daripada perempuan, yang
masing-masing pada tahun 2008 sebesar 62,1 % dan 37,9 %, pada tahun 2009
sebesar 61,77 % dan 38,23 %, dan pada tahun 2010 sebesar 61,42 % dan 38,58 %.

Namun demikian, dari data tersebut juga dapat terlihat bahwa
persentase perempuan yang bekerja terus meningkat. Hal ini mengindikasikan
bahwa kesempatan bekerja untuk perempuan terus meningkat, sehingga laki-laki
dan perempuan semakin
memiliki
kesempatan yang sama untuk mengakses pekerjaan. Selain itu, semakin banyak pula
perempuan yang bukan angkatan kerja (sekolah dan rumah tangga) masuk ke dalam
kelompok angkatan kerja untuk bekerja. Melihat kecenderungan yang seperti ini,
diprediksikan jumlah persentase perempuan yang bekerja akan mengalami
peningkatan pada masa-masa mendatang.
f.
Angkatan
Kerja Menurut Desa-Kota

Berdasarkan grafik di atas dapat dikatakan bahwa sejak tahun 2008
hingga 2010 jumlah angkatan kerja secara mayoritas masih berada di perdesaan
dan memiliki tren peningkatan. Pada tahun 2008 jumlah angkatan kerja di desa
sekitar 64,5 juta orang, meningkat pada tahun 2009 dan 2010 mencapai 65,5 juta
dan 66,8 juta orang. Di sisi lain, walaupun tidak sebesar perdesaan, namun
jumlah angkatan kerja yang berada di perkotaan juga memiliki tren yang
meningkat. Pada tahun 2008 jumlah angkatan kerja di perkotaan sekitar 47,4 juta
orang, meningkat menjadi 48,4 juta orang pada 2009 dan 49,7 juta orang pada
2010.
Oleh karena itu, guna menanggulangi lonjakan angkatan kerja baru serta
mengurangi angka pengangguran perlu dilakukan sebuah langkah/cara yang
kongkrit. Salah satu cara yang realistis dalam jangka pendek yakni dengan
memberdayakan sektor informal, padat karya dan menciptakan jiwa kewirausahaan
bagi kaum muda sehingga akan bisa menciptakan pengusaha baru, di samping
strategi jangka panjang seperti pemerataan pertumbuhan ekonomi di wilayah
melalui kebijakan desentralisasi. Sektor informal dinilai sangat membantu
menyerap orang-orang yang menganggur tetapi kreatif dan menjadi pereda di
tengah pasar global. Namun bukan berarti sektor formal di abaikan. Jika
ternyata sektor informal ternyata dapat menjawab sebagian dari masalah
pengangguran yang di hadapi bangsa ini, maka sudah waktunya sektor informal
didukung oleh pemerintah dengan menyiapkan anggaran. Anggaran ini bisa
digunakan untuk dijadikan modal pengembangan usaha ekonomis produktif bagi
pekerja-pekerja informal serta bisa dijadikan modal untuk merintis usaha baru.